Di antara banyak predikat yang
telah diberikan kepada Bung Karno, patutlah kiranya pada peringatan ulang
tahunnya yang ke-102 ini ia juga dikenang sebagai guru bangsa. Sebagai pencetus
maupun komunikator, banyak pemikiran penting telah menjadi sumbangan pendidikan
tak terhingga bagi negara-bangsa ini.
Layaknya seorang guru yang
cakap, ia mampu menyampaikan gagasan-gagasan penting dengan lancar, penuh
imajinasi, dan komunikatif. Di tangannya, topik-topik bahasan yang sebenarnya
berat menjadi gampang dicerna, mudah dipahami masyarakat luas.
Ingat, misalnya, saat secara
berkala pada tahun 1958-1959 ia memberikan rangkaian “kuliah” guna menjelaskan
kembali sila demi sila dari Pancasila sebagai dasar negara, masing-masing satu
sila setiap kesempatan “tatap muka.” Pada 26 Mei 1958 ia memulai rangkaian itu
dengan memberi kuliah tentang pengertian umum Pancasila. Setelah menyampaikan
penjelasan tentang berbagai bentuk kapitalisme dan perlawanan terhadapnya, ia
menekankan bahwa Pancasila bukan hanya merupakan pandangan hidup, melainkan
juga alat pemersatu bangsa.
Kuliah pembukaan itu disusul
kuliah-kuliah serupa lain yang biasanya diadakan di Istana Negara dan disiarkan
langsung melalui radio ke seluruh penjuru Tanah Air. Berbeda dengan
pidato-pidato Bung Karno di depan massa yang biasanya berapi-api membakar
semangat rakyat, kuliah-kuliah ini berjalan lebih rileks dan komunikatif.
Dengan kuliah-kuliah itu
tampaknya Bung Karno ingin sekaligus mengingatkan, Istana Negara bukan tempat
sangar atau sakral yang hanya boleh dimasuki presiden dan pejabat maha penting
negeri ini, tetapi Istana milik rakyat, tempat masyarakat belajar mengenai
banyak hal, termasuk dasar negara. Ia ingin menjadikan Istana (dan mungkin
Indonesia umumnya) sebagai “ruang kuliah” di mana terselenggara proses
belajar-mengajar antara masyarakat dan pemimpinnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar