Jumat, 13 November 2015

YANG MUDA YANG BERINDONESIA (Bagian II)

LANJUTAN
Selanjutnya 1974 tragedi MALARI (Malapetaka 15 Januari), pemboikotan penanaman modal asing Jepang memblokade jalan masuk PM Jepang Tanaka, hingga membunuh 11 orang dan ratusan orang terluka, jelas bukan sebuah prestisi kemegahan demokrasi, namun sayang pengkrangkengan demokrasi tak berhasil membendung idealism kaum muda untuk dapat menyuarakan kehendak rakyat ya! Kehendak rakyat sebagai tuhan demokrasi.
Tak sampai disitu peristiwa yang besar terjadi 1998 dimana segala bentuk kemunafikan rezim, arogansi rezim, keserakahan tirani harus segera diakhiri, seluruh manusia muda berkumpul menyeruakan satu kata yang sama, yang merepresentasikan kehendak wangsit idealisme yakni REFORMASI! REFORMASI yang menjadi objek harga diri reformasi atau mati reformasi atau hancur. Segala perjuangan tersebut diakhiri dengan mundurnya Jenderal yang terhormat soeharto sang pemilik rezim yang meletakan topi komandonya kepada kebenaran, kepada kehendak rakyat.
Dari sekian banyak dinamika perjuangan pemuda yang meledak-ledak, sebenarnya cukup 1  pertanyaan pada benak ini. Dimana semangat tersebut? Yang senantiasa menjaga semangat perjuangan, yang senantiasa menaruhkan harga diri bangsa diatas segalanya? Dimana semangat tersebut hari ini? Apakah sang semangat telah tertidur pulas? Lalu kapan semangat tersebut di bangunkan? Mungkin ini adalah sebuah kebohongan dimana keinginan yang hanya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, menjadi banyak sekali pertanyaan? Ini adalah dimana sesi penulis tidak memiliki semangat untuk menyelesaikan artikel ini. Apakah ini efek dari semangat yang memang sedang tertidur pulas? Entahlah.
Keinginan penulis hanya satu, tolong bangunkan semangat kamu muda untuk kembali berindonesia, sebab yang muda yang harus berindonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar