Sebagai sosok yang memiliki
prinsip tegas, Bung Karno kerap dianggap sebagai tokoh kontroversial. Maka tak
heran jika dia memiliki lawan maupun kawan yang berani secara terang-terangan
mengritik maupun membela pandangannya. Di mata lawan-lawan politiknya di Tanah
Air, ia dianggap mewakili sosok politisi kaum abangan yang “kurang islami”.
Mereka bahkan menggolongkannya sebagai gembong kelompok “nasionalis sekuler”.
Akan tetapi, di mata Syeikh
Mahmud Syaltut dari Cairo, penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min
quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan
kemerdekaan di negeri-negeri Islam). Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di
dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh al-Azhar itu sebagai,
“lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana
min syu’un al-mu’minin” (tidak lain hanyalah salah satu gambaran dari
permusyawaratan yang dijadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi kaum beriman).
Tatkala memuncak ketegangan
antara Israel dan negara-negara Arab soal status Palestina ketika itu, pers
sensasional Arab menyambut Bung Karno, “Juara untuk kepentingan-kepentingan
Arab telah tiba”. Begitu pula, Tahta Suci Vatikan memberikan tiga gelar
penghargaan kepada presiden dari Republik yang mayoritas Muslim itu.
Memang, pembelaan Bung Karno
terhadap kaum tertindas tidak hanya untuk negerinya namun juga negeri lain.
Itulah sebabnya, mengapa ia dipuja habis oleh bangsa Arab yang tengah
menghadapi serangan Israel kala itu. Bung Karno dianggap sebagai pemimpin kaum
Muslim. Padahal, di dalam negeri sendiri ia kerap dipandang lebih sebagai kaum
abangan daripada kaum santri.
Sebenarnya, seberapa religiuskah
Bung Karno? Bukankah ia juga dalam konsepsi Pancasila merumuskan sila Ketuhanan
Yang Maha Esa? Sila yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang
religius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan mengakui lima agama.
Bagaimana mungkin merangkum visi lima agama itu dalam satu kalimat yang
mendasar itu kalau si pembuat kalimat tidak memahami konteks kehidupan beragama
di Indonesia secara benar?
Dalam hal ini elok dikutip
pendapat Clifford Geertz Islam Observed (1982): “Gaya religius Soekarno adalah
gaya Soekarno sendiri.” Betapa tidak? Kepada Louise Fischer, Bung Karno pernah mengaku
bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu. Di mata pengamat seperti Geertz,
pengakuan semacam itu dianggap sebagai “bergaya ekspansif seolah-olah hendak
merangkul seluruh dunia”. Sebaliknya, ungkapan semacam itu-pada hemat BJ Boland
dalam The Struggle of Islam in Modern Indonesia (1982)- “hanya merupakan
perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya
Jawa”. Bagi penghayatan spiritual Timur, ucapan itu justru “merupakan
keberanian untuk menyuarakan berbagai pemikiran yang mungkin bisa dituduh para
agamawan formalis sebagai bidah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar