Presiden pertama RI itu pun
dikenal sebagai orator yang ulung, yang dapat berpidato secara amat berapi-api
tentang revolusi nasional, neokolonialis-me dan imperialisme. Ia juga amat
percaya pada kekuatan massa, kekuatan rakyat.
“Aku ini bukan apa-apa kalau
tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku
penyambung lidah rakyat,” kata Bung Karno, dalam karyanya ‘Menggali Api
Pancasila’. Suatu ungkapan yang cukup jujur dari seorang orator besar.
Gejala berbahasa Bung Karno
merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya
menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan
kepribadiannya. Hal ini tercermin dalam autobiografi, karangan-karangan dan
buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya.
Ia adalah seorang cen-dekiawan
yang meninggal-kan ratusan karya tulis dan beberapa naskah dra-ma yang mungkin
hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah
diterbit-kan dengan judul “Diba-wah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama
boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno
sebagai Soekarno.
Dari buku setebal kira-kira 630
halaman tersebut tulisan pertama yang bermula dari tahun 1926, dengan judul
“Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin
paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora
masa mudanya, seorang pemuda berumur 26 tahun.
Di tengah kebesarannya, sang
orator ulung dan penulis piawai, ini selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia
tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup.
Di akhir masa kekuasaannya, ia
sering merasa kesepian. Dalam autobio-grafinya yang disusun oleh Cindy Adams,
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat itu, bercerita. “Aku tak tidur selama enam
tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku
menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil
Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani
saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon,
berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya
tertidur, maafkanlah…. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat
tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.”
Dalam bagian lain disebutkan,
“Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu
pengasingan yang terpencil… Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah,
bukan pikiranmu… Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar