Dilatarbelakangi
keinginan untuk dapat kembali membangkitkan semangat nasionalisme pemuda
Indonesia yang telah lama hilang karena terhantam oleh bombardir budaya asing yang
masuk pada tanah sang ibu pertiwi ini.
Jika
kita kembali membuka lembaran sejarah bangsa ini, tak bisa dipungkiri bahwa
peranan pemuda terhadap segala dinamika perjuangan yang terjadi sangatlah
besar, diawali oleh keinginan besar seorang DR. Soetomo untuk dapat membuat
sebuah himpunan yang mencoba memahfumkan kita dalam berbicara banyak tentang
kemerdekaan Indonesia. Dimana ketika itu sang utomo merangkul para
mahasiswa-mahasiwa kedokteran STOVIA Surabaya untuk dapat bersatu membentuk
sebuah organisasi bernama budi oetomo pada tanggal 22 mei 1908.
Gerakan
yang dilakukan budi oetomo ternyata mampu menyebarluaskan virus semangat untuk
merdeka dalam setiap hati sanubari kaum muda di pelosok Indonesia, dengan
terbentuknya Indiche Partij, Jong Java, Jong Celebes, Jong Tapanuli dan banyak
lagi organisasi-organisasi yang dibentuk atas dasar keinginan untuk
merdeka dari penjajah.
Atas
dasar dapat menyamakan arah perjuangan dan untuk menjaga semangat merdeka dalam
sanubari bangsa, 28 Oktober 1928 seluruh organiasi tersebut berkumpul mengucap
sumpah untuk dapat berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu, ya! Indonesia.
Ya kita mengenal sebagai Sumpah Pemuda, sumpah yang buka sembarang sumpah,
sumpah yang selalu terngiang dalam sanubari kaum muda, dan sumpah yang menandakan
bahwa bangsa ini tidak bisa di injak-injak, sumpah yang menandakan harga diri
yang tinggi.
16
Agustus 1945 kaum muda memaksa Soekarno dan Hatta untuk tidak menerima hadiah
kemerdekaan, untuk dapat merebut kemerdekaan, karena akumulasi perjuangan selama
ini tak lantas dibayar oleh hadiah kemerdekaan, kita merebut, kita meraih, kita
berperang untuk merdeka! Bukan berperang untuk hadiah, maka tak bisa dipungkiri
bahwa bangsa merdeka karena pemuda, karena semangat. Karena idealism yang tak
ternilai, bagai harga diri yang bertahtakan perjuangan yang tak bisa dibeli
oleh apapun, yang tak bisa dibeli oleh pragmatisme semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar