Dari
teori-teori filsafat dan politik serta acuan-acuan historis yang digunakan
dalam mengurai sila-sila Pancasila, tampak pengetahuan Soekarno amat luas dan
dalam. Dalam uraian-uraiannya, tidak jarang ia menyitir pikiran Renan,
Confusius, Gandhi, atau Marx. Dengan begitu, ia seolah ingin menunjukkan dan
memberi contoh, tiap warga negara perlu terus memperluas pengetahuannya. Meski
ia sendiri sebenarnya dididik sebagai orang teknik, namun amat akrab dengan
ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.
Dalam salah satu kuliahnya Bung
Karno menyinggung kembali pertemuan dan dialognya dengan petani miskin Marhaen.
Dialog sendiri sudah berlangsung jauh sebelumnya, tetapi ia masih mampu
mengingat dan menggambarkan amat jelas. Ini menandakan, Soekarno menaruh
perhatian pada perjumpaannya dengan wong cilik, rakyat jelata, dan ingin
menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat
Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan. Baginya retorika
memperjuangkan rakyat yang tidak disertai perjumpaan-perjumpaan langsung dengan
rakyat adalah omong kosong.
Dengan kata lain, sebagai guru
bangsa ia tak suka hanya berkutat di dunia teori, tetapi juga menceburkan diri
ke realitas kehidupan sehari-hari bangsanya. Bung Karno selalu berupaya keras
mempertemukan “buku” dengan “bumi,” menatapkan teori-teori sosial-politik
dengan realitas keseharian manusia Indonesia yang sedang ia perjuangkan.
Bung Karno terus mempererat
kaitan teori dan praksis, refleksi dan aksi. Mungkin inilah salah satu faktor
yang membedakannya dari pemimpin lain, baik yang sezamannya maupun sesudahnya.
Perlu diingat, lepas dari apakah
orang setuju atau tidak dengan uraian dan gagasannya, satu hal tak dapat
diragukan tentang Soekarno: ia bukan seorang pejabat yang korup. Sulit
dibayangkan, Soekarno suka menduduki posisi-posisi tertentu di pemerintahan
karena ingin mencuri uang rakyat atau menumpuk kekayaan untuk diri sendiri.
Perjuangan Soekarno adalah
perjuangan tulus, yang disegani bahkan oleh orang-orang yang tak sepaham
dengannya. Karena itu, tak mengherankan betapapun ruwetnya ekonomi Indonesia di
bawah pemerintahaannya, tak terlihat kecenderungan pejabat-pejabat pemerintah
di zaman itu yang tanpa malu korupsi atau berkongkalikong menjual sumber-sumber
alam milik rakyat.
Absennya guru-guru lain
Bagaimanapun juga, sebagai
seorang manusia Bung Karno bukan tanpa kelemahan. Dalam kapasitasnya sebagai
pejabat negara, misalnya, ia tampak “menikmati” posisinya sehingga ada kesan ia
tak lagi menempatkan diri sebagai seorang pelayan publik dalam tata masyarakat
demokratis. Sebagai presiden seharusnya ia menyadari kedudukannya sebagai
seseorang yang menjabat sejauh rakyat memberi mandat padanya, itu pun disertai
batasan masa jabatan tertentu.
Rupanya Bung Karno tidak terlalu
menghiraukan hal itu. Karenanya ketika tahun 1963 diangkat sebagai presiden
seumur hidup, ia tidak menolak.
Sebagai seorang guru yang
memandang negerinya sebagai sebuah “ruang kuliah” raksasa dan rekan-rekan
sebangsanya sebagai “murid-murid” yang patuh, terkesan Bung Karno tak
memerlukan adanya “guru-guru” lain. Ia tak keberatan akan keberadaan mereka,
tetapi-sadar atau tidak-”gaya mengajar”-nya mendorong tokoh-tokoh lain yang
potensial untuk juga menjadi guru bangsa terpaksa menyingkir atau tersingkir.
Kita belum lupa ketika pada 1
Desember 1956 Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Kita
juga masih ingat bagaimana orang-orang dekat Bung Karno-seperti Sjahrir, Amir
Syarifuddin, Tan Malaka, Moh Natsir, dan lainnya-satu per satu menjauh darinya.
Pada pertengahan 1950-an rupanya
perhatian Bung Karno yang begitu besar kepada posisinya sendiri membuatnya
kurang menyadari bahwa dampak Perang Dingin telah kian jauh merasuki Indonesia.
Kemenangan PKI dalam Pemilu 1955 dan pemilu daerah tahun 1957, misalnya, telah
benar-benar mempengaruhi perhatian dan kebijakan para pelaku utama Perang
Dingin terhadap Indonesia.
Di satu pihak, Cina dan Uni
Soviet menyambut kemenangan itu dengan gembira karena menandakan kian meluasnya
komunisme di Indonesia. Di lain pihak, bagi AS dan sekutunya, kemenangan itu
meningkatkan ketakutan mereka bahwa Indonesia akan “lepas” dari lingkaran
pengaruh Barat. Dalam pola pikiran teori domino, lepasnya Indonesia akan
berarti terancamnya kepentingan-kepentingan Barat di Asia Tenggara.
Sedikit demi sedikit panggung
ketegangan pun dibangun. Tahun 1965-1966 panggung itu dijadikan arena pertarungan
berdarah antara PKI dan unsur-unsur bersenjata yang didukung Barat. Bung Karno
sadar, tetapi terlambat. Dengan gemetar ia terpaksa menyaksikan ratusan ribu
rakyat yang ia cintai dibantai secara terencana dan brutal.
Sedikit demi sedikit ia dijepit.
Akhirnya guru bangsa yang besar ini disingkirkan dari panggung kekuasaan. Ia
pun wafat sebagai seorang tahanan politik yang miskin, di negeri yang
kemerdekaannya dengan gigih ia perjuangkan.
Akhir hidup Bung Karno memang
memilukan. Tetapi ajaran-ajarannya sebagai guru bangsa tetap relevan dan
penting untuk negara-bangsa ini. Orang dapat belajar tidak hanya dari apa yang
dikatakan, tetapi juga dari tindakan, berikut keunggulan dan kelemahannya. Kita
berharap kaum muda negeri ini tak jemu untuk terus belajar dari sejarah,
termasuk dari Bung Karno sebagai guru bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar